{"id":1985,"date":"2020-12-17T13:13:34","date_gmt":"2020-12-17T06:13:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/?p=1985"},"modified":"2020-12-17T13:13:37","modified_gmt":"2020-12-17T06:13:37","slug":"omnibus-law-disebut-tak-menghapus-kaidah-otonom-ketenagakerjaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/2020\/12\/17\/omnibus-law-disebut-tak-menghapus-kaidah-otonom-ketenagakerjaan\/","title":{"rendered":"Omnibus Law Disebut Tak Menghapus Kaidah Otonom Ketenagakerjaan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>MURIANEWS, Kudus<\/strong> \u2013 Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja disebut bagian tidak terpisahkan dari Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Keberadaan UU Cipta Kerja juga dianggap tak menghapus kaidah otonom ketenagakerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal itu disampaikan <em>Interviewees<\/em> dari Fardalaw Office Jakarta, Dr. Willy Farianto dalam diskusi publik kupas tuntas UU Omnibuslaw di Gedung Rektorat Universitas Muria Kudus (UMK) Jumat (23\/10\/2020).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan dianggap UU Ketenagakerjaan jadi tidak ada, karena adanya UU Cipta Kerja. Harus dipahami UU Ketenagakerjaan masih ada,\u201d Katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menyebut, hukum ketenagakerjaan Indonesia dibangun dengan dua kaidah, yakni kaidah heteronom dan kaidah otonom.<\/p>\n\n\n\n<p>Dijelaskan, kaidah heteronom yakni aturan yang diatur di luar perusahaan seperti UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja, di mana yang menerbitkan adalah pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan kaidah otonom yakni peraturan internal Antara pengusaha dan pekerja. Biasanya seperti perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPolemik saat ini itu yang didiskusikan hanya kaidah heteronomnya. Padahal masih ada kaidah otonom. Yang dalam UU Cipta Kerja tidak ada satu pasalpun yang menghapus, menambah ataupun mengubah ketentuan mengenai peraturan perusahaan ataupun perjanjian kerja bersama,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menyebut, sampai saat ini hal tersebut memang tidak tersentuh dalam UU Cipta Kerja. Yang artinya kaidah otonom yang berlaku di tiap perusahaan saat ini masih berlaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemahami hukum ketenangakerjaan memang harus menyeluruh bukan setengah-setengah. Memang jika tidak dilihat secara utuh bisa menjadi polemik dari berbagai sudut pandang yang berbeda,\u201d tandasnya (Yuda Auliya Rahman).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-background has-very-light-gray-background-color\">Sumber: <a href=\"https:\/\/www.murianews.com\/2020\/10\/23\/198660\/omnibus-law-disebut-tak-menghapus-kaidah-otonom-ketenagakerjaan.html\">https:\/\/www.murianews.com\/2020\/10\/23\/198660\/omnibus-law-disebut-tak-menghapus-kaidah-otonom-ketenagakerjaan.html<\/a><\/p>\n\n<div style=\"display: block !important; margin:0 !important; padding: 0 !important\" id=\"wpp_popup_post_end_element\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MURIANEWS, Kudus \u2013 Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja disebut bagian tidak terpisahkan dari Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Keberadaan UU Cipta Kerja juga dianggap tak menghapus kaidah otonom ketenagakerjaan. Hal itu disampaikan Interviewees dari Fardalaw Office Jakarta, Dr. Willy Farianto dalam diskusi publik kupas tuntas UU Omnibuslaw di Gedung Rektorat Universitas Muria Kudus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1986,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[3],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1985"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1985"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1985\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1991,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1985\/revisions\/1991"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1986"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.fardalaw.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}